Mencari Makna Sendiri

sumber gambar : https://www.grid.id/read/043328613/arti-mimpi-diri-sendiri-meninggal-dunia-ternyata-menyimpan-makna-positif-tentang-awal-baru-kehidupan-simak-penjelasannya?page=all

Debur ombak dan dinginnya angin pantai semakin membuat Fava terhanyut dalam lamunan di saat sang raja kegelapan ingin kembali berkuasa. Menerawang pandang sejauh cakrawala jiwa sunyi menanti jawab. Surya telah beranjak ke peraduan dan Dewi bulan pun enggan keluar kala melihat arak-arakan awan hitam bak tentara kan pergi berperang. Sebentar tersenyum sebentar berkaca-kaca, anginpun bertanya, “Hei kamu sudah gila ya?”. Senyuman getir Fava seolah dia tahu bahasa angin yang menerpa dan menemaninya sejak pertama kali tangisnya terdengar dan jejak kaki lemahnya belum mampu menopang tubuh mungilnya. Beribu tanya dalam hati Fava tak tahu kepada siapa, hanya jawab jujur yang selalu dia harap. Fava berdiri memandang jauh lepas ombak yang semakin malam semakin berani mendekatinya. Tersenyum seolah puas menikmati panjang hari, dia berbalik sambil menjinjing sandal jepit swallow biru usang dengan peniti pengganti kaitnya.
Belum genap sebulan dia datang dari Australia untuk menuntut ilmu. Gelitik rasa kangenpun memaksa dirinya menengok tanah tempat pernah dulu dia kencingi, pernah dulu dia bermain bola plastik bersama teman kecilnya, mandi dalam deras guyuran hujan, dan pertama kali dia nakal mencium pipi Tuti teman sekelasnya waktu di Sekolah Dasar. Fava tersenyum saat ingat masa kecilnya dan sempat terbersit tanya, “pada kemana mereka sekarang?”.
Kembali dia tersenyum sambil berjalan tanpa alas kaki dengan celana jeans di lipat sedengkul. Sejurus kemudian Fava menjalankan mobilnya pelan menikmati gelapnya sekitar jalan yang berbelok-belok, naik turun dan terlihat gundukan tanah-tanah seperti gunung tapi kecil dan gersang, hanya rumput yang kering itupun jarang-jarang. Pohon-pohon jati kurus tak terurus dengan beberapa daun dirantingnya dan tegalan-tegalan kering membentang separo perjalanan. Beberapa tahun yang lalu dia melintasi jalan ini juga, “masih sama saja” bisiknya dalam hati. Namun disaat bersamaan dia merasakan ada sesuatu yang mengiris perih, kembali dia bertanya, “apakah yang kurasa perih ini?” diapun bingung.
Sesampai di rumah peninggalan orang tuanya Fava tampak mengerutkan dahi seperti berpikir dan mencari tahu suatu tanda tanya. Sebenarnya apa yang dia rasa, sesungguhnya siapa yang gundah gulana. Dia merasa tersentil dengan beberapa tanya. Apakah memang hidup itu selalu penuh tanya.
Semakin bertanya semakin dia merasa seperti orang gila. Ketika dia merasa bukan dirinya, ketika dia merasa menang resah gelisah dan kebingungan mencari-cari, entah diri sendiri entah orang lain. Duduk di teras belakang rumah sambil membawa secangkir kopi dan rokok Lucky Strike kesukaannya Fava menikmati hijau asri dan sejuknya taman dan sayup terdengar lagu Love me do dari Beatles kesukaannya. Fava teringat beberapa tahun yang lalu saat dia duduk pula disini mengkhayal dan berpikir tentang suatu kemenangan, suatu kesenangan. Suatu kemenangan dan kesenangan yang absurd.
Suatu kemenangan dan kesenangan yang membuat orang senang dan tenang untuk sementara waktu sambil berbangga-bangga dan bahkan pesta pora. Kemenangan dan kesenangan yang membuat orang mempersiapkan diri mempertahankan semua itu sekaligus berencana untuk meraih kemenangan dan kesenangan selanjutnya.
“Bengong terus kamu Va!” ada suara menegur menyadarkan lamunan Fava.
Fava menengok kaget mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia adalah Wahyu sahabatnya yang dulu pun duduk disini berdiskusi tentang semuanya.
“Kamu jahat ya, pulang diam-diam aja ndak ngasih tahu temen“
“Sorry teman, belum sempet, mo ngopi nih“
“Boleh lah, jangan manis-manis yah”
Sebentar kemudian Fava datang membawa secangkir kopi yang wanginya membuat wahyu buru-buru meminumnya. Aroma khas kopi Tugu Luwak kesukaannya. Seperti biasa saat mereka berdua duduk di teras belakang rumah Fava, mereka berdiskusi tentang hal yang menggelitik jiwa muda mereka.
“Kalau ada yang menang ya senang, kalau yang kalah ya sedih, kecewa” kata Wahyu di sela-sela isapan rokoknya.
“Aku ini termasuk salah satu orang yang kalah Yu, dan aku masih kalah dalam game yang aku mainkan saat ini” Fava berkata sambil menghela nafas panjang.
“Suatu pengakuan yang terlalu lugu dan jujur,” batin Wahyu, dan Wahyu pun sangat menghargai apa yang dikatakan Fava.
“Sebaiknya jangan terlalu gegabah menilai diri dalam suatu perangkap kekalahan, Va,… jangan buru-buru menjerumuskan diri dalam liang kekalahan ataupun menyamakan semua itu dengan kematian“ kata Wahyu.
“Aku tak menyamakan itu dengan kematian Yu, walau kadang terlintas bahwa kematian menjadi salah satu jawaban, kadang pula keputusasaan menggelayuti harapanku, dan kuberusaha menepis semua”.
Sejak pulang dari Australia, Fava memang terlihat agak berbeda dengan dia sebelumnya yang selalu optimis dengan masa depan dan berpikir positif. Mungkin kesendirian yang di alami Fava membuat dia jadi sentimentil dan sensitif. Wahyu yang memang sudah tahu dengan sifat-sifat Fava, tahu kalau sahabatnya itu sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Tak jelas pasti, apakah krisis kepercayaan diri atau memang ingin menikmati kesendirian. Alasan klasik yang selalu terucap dari mulut Fava hanyalah ingin bebas tanpa ada yang memiliki dan mengatur dirinya. Sejak putus pacaran dengan Linda seorang wanita Aussie dua tahun yang lalu, sampai saat ini Fava belum juga menemukan gantinya. Kalau di tanya temannya, jawabannya ya, “ ingin menikmati kesendirian”.
“Fava, jangan mengidentifikasikan kesendirian itu dengan kekalahan, dan jangan terlalu mudah menilai berdua atau beberapa itu dengan kemenangan”
“Kita tahu manusia itu hanya sendiri saat masuk liang lahat, dan juga akan sendiri juga menghadap sang Khalik”.
“Pernah terjadi orang mo mati ngajak-ngajak?” kata Wahyu tanpa berniat mau melucu.
Fava terdiam mencoba mencari makna kata-kata sahabatnya. Fava mengakui bahwa kegagalan cinta membuatnya seperti orang gila. Cinta dapat menciptakan suka, duka ataupun kedua-duanya hanya dalam satu peristiwa. Fava merenungi bahwa Cinta adalah candu, dan kecanduan inilah yang telah menohoknya.
“Va,… jangan sedih dan nelangsa karena kesendirian, dan jangan pula merasa kalah dengan kesendirian itu” kata Wahyu.
“Ada saatnya nanti setiap kita berpasang-pasangan sampai kakek-nenek, ada saatnya seorang manajer menyiapkan sarapan pagi buat seorang assistent, ada masa dimana kita asik dengan tanggung jawab dan mencari nafkah. Namun semua itu kelak, ketika memang kita sudah waktunya untuk itu. Janganlah kamu terburu-buru dan juga jangan mengulur waktu.
Optimalisasi tetap menjadi standard pribadi, sebab maksimalisasi hanya akan meningkatkan derajat stress manusia”.
Fava terdiam melemparkan pandangan ke pohon cemara yang bergoyang seolah mengiyakan kata-kata Wahyu. Tak tahu apa yang menggeliat dalam tempurung kepalanya, tak tahu apa yang memberangus kejeniusannya.
“Va,… bukan hanya kamu yang sendiri, aku juga merasakannya,… tapi aku berpikir bahwa semua itu belum berakhir. Kita masih punya pertandingan yang belum kita mainkan dan saat inipun kita belum menyelesaikan pertandingan ini.
Kemenangan menjadi suatu pilihan utama, walau kekalahan sering kali menari-nari dan menggoda dalam kegamangan” kata Wahyu sambil menepuk pundak sahabatnya.
Wahyu memandang lekat Fava seolah ingin menembus masuk kedalam suatu dimensi lain dalam diri Fava. Fava yang selama ini belum juga bisa menikmati kesendirian. Fava yang tidak memburu dan mengais-ngais cinta wanita yang mungkin tercecer dipinggir jalan, di keramaian, atau bahkan dalam tong sampah yang kadang di bakar dan ditendang. Fava tidak berusaha untuk meluluhkan hati dan meruntuhkan cinta wanita-wanita ayu, sexy nan elok parasnya, walau sebenarnya dia sangat bisa melakukan hal itu. Dengan kelebihan yang dia miliki Fava akan dengan mudah mendapatkan wanita cantik.
Tapi Fava percaya bahwa persahabatan karib kelak dapat menjembatani suatu hubungan yang istimewa, itupun kalau tak keduluan dan di serobot orang lain.
Mungkin itu yang baru di mengerti oleh Wahyu tentang kesendirian Fava. Dalam hati Fava sebenarnya menyadari bahwa siapapun tak dapat berjalan sendiri, kekasih, tidak juga engkau dan mereka. Semuanya di ciptakan berpasang-pasangan, jantan dengan betina, laki-laki dengan wanita, malam dengan siang. Semuanya itu hukum alam.
Tenggelamkanlah diri agar laut menjadi kesadaran, agar langit menjadi harapan. Sungguh masih sulit bagi Fava untuk membuka pintu hari bersama kekasih, tapi Fava pun tak ingin semua begitu mudah berlalu.
Wahyu akhirnya pulang saat terlihat gerimis turun mencubit helai daun-daun, membasahi kerinduan, membasahi kesendirian, membasahi malam dan membiarkan genteng mengalur alirnya. Fava menatap kepergian teman karibnya masih dengan tanda tanya. Tak terasa mereka menghabiskan separuh malam mencari makna kesendirian. Fava merasa seperti mendapatkan setetes dingin sejuk zam-zam di tengah gurun. Fava bersyukur bahwa hari ini dia masih bisa menghirup udara segar pagi, menyaksikan sang surya tersenyum memberikan harapan terang dunia, dan menjadi saksi keserasian Merapi dan Merbabu hingga akhir jaman.

(Tidak ada data yang tersimpan di fileku. sumber link, nama pengarang, waktu dll)